Selasa, 09 Agustus 2011

Cra membuat alat penetas telur

Usaha peternakan unggas (ayam dan itik) merupakan jenis usaha yang cukup menjanjikan. Hal ini didasari oleh jumlah permintaan produk hewani asal unggas baik telur maupun daging tiap tahun makin meningkat. Sebagai contoh di Kotamadya Kendari pada tahun 2002 permintaan ayam buras berkisar 500 – 600 ekor per minggu, sementara baru tepenuhi 300 – 400 ekor per minggu (Anonim, 2002).
Dilihat dari data permintaan tersebut prospek usaha agribisnis unggas yang salah satunya adalah ayam buras cukup potensial. Keunggulan lain usaha agribisnis unggas adalah tidak mutlak memerlukan biaya yang besar, tergantung dari kemampuan peternak yang korelasinya dengan skala pemilikan. Selain itu jenis ternak ini telah lama dikenal masyarakat sehingga teknik budidayanya tidak terlalu rumit. Dalam upaya memacu usaha peternakan unggas perlu adanya sentuhan teknologi tepat dan mudah diterapkan oleh peternak. Dari sisi ketersediaan bibit, teknologi penetasan telur buatan dengan penggunaan mesin tetas telur sangat cocok diterapkan. Keunggulan teknologi ini adalah menghilangkan periode mengeram pada induk sehingga induk mampu menghasilkan telur lebih banyak selama hidupnya, selain itu anak ayam dapat di produksi dalam jumlah yang besar pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari mesin tetas ini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang sama pada saat telur dierami oleh induk. Kondisi yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Suhu optimal adalah 38,8o C atau 101o F. Kondisi suhu tersebut dapat direkayasa dengan penggunaan sumber panas listrik maupun lampu minyak dan untuk kelembaban optimal digunakan air yang ditempatkan dalam mesin tetas. Mesin tetas dibedakan atas dasar sumber panas yang digunakan. Pertama, mesin tetas elektrik dengan menggunakan listrik yang dihubungkan dengan lampu pijar sebagai sumber panas. Kedua, mesin tetas yang menggunakan sumber panas lampu minyak yang dihubungkan dengan silinder yang terbuat dari seng plat sebagai sumber panas. Ketiga, mesin tetas kombinasi yaitu gabungan dari sumber panas yang berbeda (listrik dan lampu minyak), jenis mesin tetas ini sangat efektif pada daerah yang sering mengalami pemadaman lampu, sehingga pada saat lampu padam maka digunakan lampu minyak sebagai sumber panas. Model mesin tetas telur ini dapat diperoleh di toko poultry shop atau membuat sendiri dengan bahan yang mudah dan tersedia di tempat. Besarnya mesin tetas telur yang digunakan disesuaikan dengan kapasitas telur yang akan ditetaskan seperti ; 200 butir, 400 butir dan 600 butir. II. Bahan – Bahan yang Digunakan Pembuatan mesin tetas disesuaikan dengan kondisi sumber panas yang tersedia. Pada tempat yang belum ada listrik bisa dibuat mesin tetas dengan menggunakan lampu minyak sedangkan daerah yang tersedia listrik bisa dibuat mesin tetas telur elektrik atau mesin tetas kombinasi.
Bahan-bahan yang digunakan antara lain :
1.Kayu kaso 4 x 5 cm sebagai rangka mesin
2.Tripleks melamin, kaca dan engsel
3.Kawat ram (tempat peletakan telur)
4.Paku dan seng plat
5.Nampan air dan thermometer
5.Alat pengatur suhu (thermoregulator)
6.Lampu pijar dan lampu minyak
Cara Pengoperasian Mesin Tetas Telur
A. Persiapan
Sebelum digunakan, mesin tetas harus dibersihkan dahulu dari mikroorganisma pengganggu dengan jalan penyemprotan bahan pembunuh kuman / desinfektan.
Pemanas dihidupkan.24 jam sebelum telur dimasukan ke dalam mesin tetas,
Telur dibersihkan dengan menggunakan lap basah hangat dan tiriskan.
Suhu mesin tetas harus konstan, diusahakan 38,8o C atau 101o F.
Nampan air diisi air secukupnya (tidak sampai penuh), penggunaan air ini untuk menjaga kelembaban mesin tetas, untuk itu selama penetasan harus diperhatikan stabilitas volume air.
Setelah telur bersih dan kering, telur diberi tanda pada kedua belah sisi dengan spidol atau alat tulis lain, misal ; huruf A dan B di kedua belah sisi. Pemberian tanda ini berguna untuk memudahkan dalam pemutaran telur agar lebih merata.
Telur yang sudah ditandai dimasukan secara perlahan ke dalam mesin tetas dengan posisi tanda seragam. Tutuplah mesin tetas setelah semua telur dimasukan.
B. Operasional Penetasan
Setelah 48 jam telur dalam mesin tetas, mulai dilakukan pemutaran telur setiap pagi dan sore.
Pemutaran telur dilakukan sampai hari ke 18.
Pemeriksaan telur sebaiknya dilakukan 2 kali, yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 18.
Telur yang bertunas (tanda telur hidup) tampak terang dan tidak terdapat bintik-bintik merah
Telur yang bertunas ditandai dengan adanya titik merah di bagian petengahan, ukurannya kira-kira sebesar biji kacang hijau dan tampak bergerak. Apabila titik merah tersebut tidak bergerak pertanda embrio dalam telur mati, maka telur yang mati tersebut harus dibuang agar telur tidak membusuk dalam mesin.
Telur akan memenetas pada hari ke 20 atau 21.
Anak ayam yang keluar dari telur dibiarkan dahulu dalam mesin selama kurang lebih 24 jam, sampai bulu anak ayam kering dan kondisi anak ayam normal.
Setelah kering dan normal, anak ayam bisa dikeluarkan dari mesin tetas.

Rabu, 20 Juli 2011

luka

Tuk mngenalny btuh wkt,
tuk mncintany btuh wkt,
tuk bnr” mncntany btuh wkt yg tak sbntar,
nmun dsaat q bnr” mncntany,
engkau prgi tnpa beban,
tnggallah q yg sllu mrindu,mnginginkn,mnangis,mnggila tnp u,
pa slah q?
Pa yg mbuat u bgni?
Pa u tau pa yg q rs slma ni?
Pa bs q lnjutin hub ni?
Pa hrs ckup disni jg?

Selasa, 05 Juli 2011

Situ buleud

Seorang sesepuh Purwakarta yang juga Sekretaris Musyawarah Bersama Masyarakat Purwakarta dan anggota panitia penelusuran sejarah Purwakarta, R.H. Garsoebagdja Bratadidjaja, menjelaskan, pada zaman dahulu Situ Buleud merupakan tempat "pangguyangan" (berkubang) badak yang datang dari daerah Simpeureun dan Cikumpay serta dijadikan pula tempat minum bagi binatang lainnya. Situ Buleud terbentuk karena ada mata air ditambah air hujan. Kemudian, pada zaman Belanda diperbesar. Karena dikhawatirkan airnya terus surut, dibuatlah saluran irigasi dari daerah Pasawahan. Selanjutnya, Gar menceritakan sebenarnya Situ Buleud sering dipergunakan untuk acara-acara keramaian besar, seperti memperingati hari ulang tahun Raja Belanda ataupun keramaian lain. Kemudian dibuat panggung besar di tengah-tengah danaunya dan diadakanlah pesta besar sehingga rerumputan yang ada di sekelilingnya juga terus dipelihara. "Ini terjadi sebelum Perang Dunia II, sedangkan sekarang tidak ada lagi acara tersebut yang biasanya diramaikan dengan acara wayang golek ataupun calung," ujarnya.
Pada zaman Belanda itulah, rakyat jelata tidak boleh menginjak rumput yang ada di sekeliling Situ Buleud karena merupakan tempat atau arena bermain para gegeden Belanda. Untuk menjaganya, dipercayakan kepada seorang upas bernama Sahro lengkap dengan pentungan karetnya. Ia seringkali berteriak-teriak untuk menakut-nakuti anak-anak yang bermain ke wilayah sekitar danau itu. Karena merasa takut dipentungi, anak-anak biasanya terus berlarian. Lebih dari itu, Situ Buleud dulu juga sering dijadikan tempat berenang. "Namun, sekarang tidak lagi bahkan sekarang suka ada jatuh korban anak-anak yang tenggelam, sedangkan dulu tidak pernah," ungkap Gar.

Sementara itu, menyangkut cerita berbau mistik, menurut Gar, berdasarkan penuturan orang-orang tua dulu pada setiap subuh anak-anak seringkali bermain di sekitar Situ Buleud. Namun, mereka biasanya langsung berlarian manakala terdengar teriakan bahwa di tengah-tengah Situ Buleud muncul secara tiba-tiba bayang-bayang hitam besar. "Awas! Aya anunya [****]Bima. Aya [****] Bima!"
Bahkan, yang lebih seram lagi sempat pula ada cerita orang tua dulu bahwa di Situ Buleud itu ada "penunggu"-nya yang biasa disebut si Barong, yakni sesosok mahluk menyerupai bentuk kepala singa. Makhluk itu konon suka muncul secara tiba-tiba di tengah Situ Buleud. "Bila ada orang yang kawenehan (kebetulan melihat-red.), akan terlihat sosok kepala singa besar," ungkap Garsubagdja.

Istana megah

Sementara itu, seorang warga sekitar Situ Buleud bernama Andang (27), yang merupakan warga asli di sekitar danau tersebut, menceritakan, dulu sebagaimana diceritakan orang tuanya Situ Buleud memang merupakan tempat berkubang badak. Pada zaman Belanda diperbaiki dan dijadikan arena kegiatan hiburan. Ia juga mengetahui banyak cerita mistik di Situ Buleud. Menurutnya, bila kita punya "ilmu", ketika masuk dari pintu gerbang utama langsung terlihat berdirinya sebuah istana megah.

Pernah juga ada cerita bahwa suatu saat danau itu akan dikeringkan untuk diambil ikannya (bahasa Sunda = dibedahkeun-red.). Pada malam hari sebelum danau itu dikeringkan, secara kebetulan jatuh pada malam Jumat, menurut cerita banyak ikan besarnya yang berjalan menuju sungai di sekitarnya. "Katanya, ikan itu merupakan ikan kajajaden atau bukan sembarang ikan," ungkapnya.

Ada pula cerita, hampir setiap tahun selalu saja ada korban manusia yang menjadi wadal (tumbal-red.) karena ada cerita bahwa danau itu ditunggui oleh Mbah Jambrong. Pada beberapa bulan lalu sempat pula ada seseorang yang menangkap ikan menggunakan jala, lalu tersangkut dan tercebur ke dalam danau hingga meninggal. Bahkan sebelumnya, banyak cerita yang dihubung-hubungkan dengan mistik seperti meninggalnya seorang pengusaha yang menyewa danau itu untuk dijadikan tempat rekreasi. "Selain itu, ada juga cerita tentang rumah peninggalan Belanda di sekitar danau yang sempat disewa oleh produser film 'Rojali dan Juleha' selama dua bulan, namun baru sebulan langsung hengkang. Pasalnya, banyak artisnya yang tidak tahan banyak yang pingsan dan kerasukan," ujarnya

Senin, 04 Juli 2011

Wisata Ke Wanayasa ?

Kawasan Wanayasa terletak sekitar 23 km dari kabupaten Purwakarta, dengan cuaca dan udara yang sejuk dan berlatar belakang gunung Burangrang, sehingga Situ Wanayasa yang luasnya 7 ha begitu menyatu dengan alam. Situ Wanayasa dan sekitarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi Taman Rekreasi dan Desa Wisata dan di tengah situ wanayasa terdapat pulau kecil yang indah.

Sekitar 8 km dari Situ Wanayasa terdapat sumber air panas Ciracas yang berlokasi di tengah hamparan persawahan yang indah dengan udara yang sejuk. Potensi obyek wisata Sumber Air Panas Ciracas dapat dikembangkan berbagai fasilitas antara lain hotel, bungalow, kolam renang dan sarana rekrasi lainnya. Selain itu terdapat air terjun Curug Cipurut. 

 Curug Cipurut, ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang ± 3 km ke arah Selatan yang merupakan suatu tempat yang nyaman untuk rekrasi baik hiking maupun camping ground. Menuju lokasi kota Wanayasa. Selain dari itu kita dapat melakukan agro wisata di Wanayasa, karena dengan kesejukan udara dan hamparan panorama alam yang indah dari perkebunan teh, manggis dan perkebunan pala, kita sekeluarga dapat melakukan kegiatan `garden party` sambil menimati makanan khas dengan pala, maranggi dan memetik buah mnggis. Obyek-obyek wisata ini, menanti pengembangan dari pihak investor yang tertarik berinvestasi di kabupaten purwakarta

Siput Dan Rumahnya

Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana… Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .
Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh,.. siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.
Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk ,, tok..tok…tok…burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur,
Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru….
Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.
Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan….
Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.
Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku, …. aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.

Sekilas Sejarah Kota Subang

Ada fakta menarik mengenai asal muasal nama Subang. Pada tanggal 1 Januari 1870 Kademangan Ciherang dipindah ke desa Wanareja karena P&T yang ada di Pamanukan juga berpindah. Lokasi pindahnya kantor P&T itu adalah bekas kubangan badak yang telah berdiri bedeng-bedeng. Karena orang Belanda tidak bisa mengatakan Kubangan Badak, maka terciptalah kata Subang-an Badak dari para pengusaha Belanda yang oleh para buruh diubah lagi menjadi kampung Subang.
Subang adalah kota yang berasal dari perkebunan. Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah, diantaranya Peter Willem Hofland, yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda. Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.Di tahun 1886, nama perusahaan perkebunan yang bernama Perkebunan P&T (Pamanukan & Tjiasem) Lands diganti dengan nama NV. Maatschappy Ter Exploitatie der Pamanukan en Tjiasem Landen. Kedepannya, tanah perkebunan ini mengalami 3 masa peralihan : tahun 1812 -1839 menjadi milik Inggris, tahun 1840 -1910 menjadi milik Belanda lalu terakhir di tahun 1911 -1953 kembali di tangan Inggris. Pada tahun 1953, nama Bel anda tersebut dirubah menjadi P&T Land N.V. Hasil perkebunan dari perusahaan ini meliputi teh, karet, sisal, singkong (tapioka), kapok, merica, coklat, kina, kopi dan padi.

Subang pada tahun 1950 adalah sebuah perkebunan karet yang luas. Pusat dariseluruh kegiatan di Subang berada di perusahaan The Anglo Indonesian Plantation LTD. Tercatat di perusahaan ini sejumlah 46 orang karyawan-nya adalah orang Indonesia sedangkan sisanya adalah 268 orang asing. Ini mengungkapkan bahwa perusahaan perkebunan ini cukup besar. Besarnya jumlah kaum expatriat ini juga memperlihatkan adanya persentuhan sosial, budaya, agama dan lainnya antara kaum pribumi lokal Subang dengan bangsa lain (masyarakat internasional) yang cukup intens pada periode tersebu

Minggu, 03 Juli 2011

Cara membuat Kolam terpal

Membaca tulisan ”Kolam Terpal” pasti akan terbayang bahwa yang dimaksud adalah
bentuk kolam yang terbuat dari bahan terpal. Dan memang seperti itulah kolam
terpal yaitu kolam yang terbuat dari terpal yang tidak tembus air.
Kolam terpal dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan, tanaman air, penampung
air, dll. Jika dibandingkan dengan kolam semen yang pasti kolam terpal ini sangat
murah dari sisi harganya, sangat mudah dan cepat dalam pemasangannya.
Banyak peternak ikan hias dan konsumsi menggunakan kolam terpal. Termasuk
saya. Hampir semua kolam ditempat saya menggunakan kolam terpal ini
Kolam terpal dapat dipakai hingga 2thn bahkan lebih. Tergantung pemakaian.
Berdasarkan pengalaman saya bahkan hingga 3 thn kolam terpal tetap kuat dan
dapat terus digunakan.
Untuk pemasangan kolam terpal pada lantai yang tidak berupa tanah/plesteran/ubin
terlebih dahulu harus dibuat rangka kolam. Rangka kolam ini dapat terbuat dari besi
berlubang, besi berongga, kayu atau bambu. Selanjutnya kolam terpal di letakan di
dalam rangka yang sudah dibuat.
Untuk pemasangan kolam terpal pada lantai yang berupa tanah dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Terlebih dahulu dibuat rangka kolam dengan cara memasang tiang-tiang
penahan yang terbuat dari bambu/kayu kaso dimana tiang tersebut
ditancapkan kedalam tanah dengan cara di cor agar kuat dan agar tiang tidak
mudah lapuk.
2. Dibuat pagar bambu untuk menahan tiap sisi-sisi kolam
3. Selanjutnya alasi lantai sebelum kolam diletakan. Tujuannya adalah untuk
menghindari keberadaan benda-benda tajam pada lantai yang dapat merusak
kolam terpal. Untuk alas dapat menggunakan karpet, sekam padi, dll
4. Setelah itu kolam dimasukan kedalam rangka kolam yang sudah di buat
dan ikatkan pada rangka kolam
Rangka kolam menggunakan bambu
Tiang penahan
Masalah yang sering ditemukan pada kolam terpal adalah kebocoran akibat robek
pada tiap lipatan dan akibat gigitan tikus. Untuk memperbaiki kolam yang robek
dapat menggunakan lem aibon. Dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Keringkan kolam terpal
2. Amplas pada sisi-sisi bagian yang bocor lalu oleskan lem
3. Siapkan sepotong terpal untuk menambal bagian yang bocor, amplas dan
kemudian oleskan lem
4. Biarkan selama 5 menit
5. Tempelkan sepotong terpal tadi pada bagian yang bocor
6. Setelah 1 jam kolam sudah dapat digunakan kembali
Curat coret © 2008 Template by:
SkinCorner